Rabu, 04 Oktober 2017

Jeritan Tangis Ibu Pertiwi



JERITAN TANGIS IBU PERTIWI
            Indonesia merupakan kawasan perhutanan yang menduduki urutan ke – 9 dalam kategori Hutan Terbesar di Dunia. Luas hutan di Indonesia yaitu  884. 950 km² yang berarti 46, 46% wilayah Indonesia merupakan wilayah perhutanan. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam hutan tentu terdapat berbagai jenis pohon, pohon adalah  paru – paru dunia. Maka, dengan adanya hutan pasokan oksigen dapat memadai kebutuhan kita akan udara bersih, keberadaan hutan juga diharapkan dapat menjaga keasrian lingkungan serta mampu menampung  jumlah debit air hujan yang turun sehingga mencegah terjadinya banjir.
            Hutan Indonesia tidak hanya terdapat di daratan rendah namun, di daratan tinggi pun terdapat hutan yang memiliki pohon – pohon yang tak kalah banyak dari hutan di daratan rendah. Pohon ini diharapkan dapat mencegah terjadinya longsor pada daerah yang berdinding curam ketika musim penghujan tiba. Apalagi, longsor dapat berakibat fatal bagi pemukiman warga karena tidak sedikit warga yang bertempat tinggal di daerah dataran tinggi bahkan, di  sekitar kawasan yang berdinding curam.
            Tak kalah dengan hutan, sungai di Indonesia juga berlimpah ruah. Warga tidak akan kehilangan sumber air bersih dengan adanya sungai ini. Sungai dengan aliran airnya yang begitu jernih dan segar dikelilingi dengan pepohonan hijau yang semakin memanjakan mata dan menyejukkan jiwa. Ekosistem di sungai ini pasti berlangsung dengan baik.
            Namun, apa yang kita harapkan hanyalah sebuah pengharapan semu. Sungai yang dulunya merupakan wadah air bersih nan jernih yang menyegarkan kini berubah menjadi tempat yang paling kotor dan menjijikan. Andai ikan bisa memilih, mungkin ia lebih memilih tinggal di gurun pasir daripada harus tinggal di sungai yang menjijikan itu. Bagaimana tidak menjijikan jika, para warga menjadikan sungai sebagai tempat sampah sehingga air sungai yang dulunya jernih kini berubah warna menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Lingkungan kita kini penuh sampah, di sungai ada sampah, di kali ada sampah, di selokan ada sampah, bahkan, di pantai pun ada sampah, Nusantara penuh sampah.
            Bukan hanya masalah sampah di sungai, pepohonan di hutan juga kini telah hilang akibat dari ulah para penebang liar yang tak bertanggungjawab. Mereka menebang pohon dengan seenaknya tanpa berpikir panjang. Bukannya tidak boleh menebang pohon tetapi, lakukanlah dengan prinsip tebang – pilih agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan.
            Tanah yang biasanya ditanami dengan tumbuhan hijau kini ditutupi dengan semen dan di atasnya dibangun bangunan pencakar langit hingga menyebabkan berkurangnya tempat resapan air hujan.
            Tidak selesai dengan tiga masalah lingkungan yang disebabkan oleh ulah penghuni bumi ini, masalah kebakaran hutan yang tidak lain penyebabnya adalah manusia yang seakan hanya mementingkan materi daripada kesehatan lingkungannya. Mungkin, awalnya mereka menganggap membakar hutan untuk pindah lahan itu tidak berakibat fatal. Namun, lain halnya jika, pohon yang dibakar itu tertanam di tanah gambut, tanah gambut akan menyerap api hingga ke tanah bagian dalam jadi, sulit untuk dipadamkan karena selalu ada bara api dari dalam tanah hingga menyebabkan kabut asap.
            Lengkap sudah pencemaran lingkungan yang terjadi di bumi Ibu Pertiwi. Air sungai yang tak jernih hingga memicu munculnya bibit penyakit, banjir yang seakan sudah menjadi langganan bulanan Ibu Kota karena hilangnya daerah resapan air, Longsor akibat penebangan pohon secara liar, dan bencana kabut asap yang begitu fatal hingga menembus negara tetangga. Ibu Pertiwi berduka,Ibu Pertiwi menangis, kecewa dengan penghuninya yang sudah tidak merawatnya lagi. Penghuninya hanya menginginkan keuntungan darinya namun, enggan untuk merawatnya, ibarat peribahasa habis manis sepa dibuang, itulah yang Ibu Pertiwi rasakan dari ulah para penduduknya.
            Apakah kita hanya ingin berdiam diri melihat penderitaan Ibu Pertiwi ? Saya harap jawabannya, TIDAK.
            Marilah kita sebagai generasi muda penerus bangsa bekerja sama menyelesaikan semua penderitaan Ibu Pertiwi. Mari kita memulainya dari awal, yakni dengan memberikan penyuluhan kepada orang – orang yang tidak terlalu mengerti akan pentingnya kebersihan & kesehatan lingkungan hidup, mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menanam 2017 pohon di Indonesia sebagai wujud penyambutan tahun baru 2017, memberikan intruksi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan dan selalu merawat kebersihan sungai, kali dan selokan.
            Namun, semua ini tak cukup jika hanya masyarakat yang turut andil, pemerintah juga harus turut andil dalam hal menjaga keasrian lingkungan hidup dengan menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai misalnya, keberadaan mobil angkutan sampah di setiap minggunya, kerja bakti yang dilakukan seminggu sekali dan yang pasti pemerintah harus memberikan contoh yang baik untuk rakyatnya.
            Nah, jika semua ini kita laksanakan dengan baik dan rutin maka, percayalah bahwa jeritan tangis ibu Pertiwi tak akan terdengar lagi. Nusantara akan kembali asri dengan tumbuhan hijau, pepohonan rindang yang akan melindungi dari sinar ultraviolet yang berbahaya, air sungai yang  jernih dan menyejukkan, semua itu kembali kita rasakan. Yakinlah kita bisa bernafas lega dan beraktifitas di luar ruangan tanpa takut dengan kabut asap. Nusantaraku kembali, tiada lagi duka Ibu Periwi, tiada lagi jeritan tangis Ibu Pertiwi.

~ Fitrhi Ramadhani,  2017