JERITAN
TANGIS IBU PERTIWI
Indonesia
merupakan kawasan perhutanan yang menduduki urutan ke – 9 dalam kategori Hutan
Terbesar di Dunia. Luas hutan di Indonesia yaitu 884. 950 km² yang berarti 46, 46% wilayah Indonesia
merupakan wilayah perhutanan. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam hutan
tentu terdapat berbagai jenis pohon, pohon adalah paru –
paru dunia. Maka, dengan adanya hutan pasokan oksigen dapat memadai
kebutuhan kita akan udara bersih, keberadaan hutan juga diharapkan dapat
menjaga keasrian lingkungan serta mampu menampung jumlah debit air hujan yang turun sehingga
mencegah terjadinya banjir.
Hutan
Indonesia tidak hanya terdapat di daratan rendah namun, di daratan tinggi pun
terdapat hutan yang memiliki pohon – pohon yang tak kalah banyak dari hutan di
daratan rendah. Pohon ini diharapkan dapat mencegah terjadinya longsor pada
daerah yang berdinding curam ketika musim penghujan tiba. Apalagi, longsor
dapat berakibat fatal bagi pemukiman warga karena tidak sedikit warga yang
bertempat tinggal di daerah dataran tinggi bahkan, di sekitar kawasan yang berdinding curam.
Tak
kalah dengan hutan, sungai di Indonesia juga berlimpah ruah. Warga tidak akan
kehilangan sumber air bersih dengan adanya sungai ini. Sungai dengan aliran
airnya yang begitu jernih dan segar dikelilingi dengan pepohonan hijau yang
semakin memanjakan mata dan menyejukkan jiwa. Ekosistem di sungai ini pasti
berlangsung dengan baik.
Namun,
apa yang kita harapkan hanyalah sebuah pengharapan semu. Sungai yang dulunya
merupakan wadah air bersih nan jernih yang menyegarkan kini berubah menjadi
tempat yang paling kotor dan menjijikan. Andai ikan bisa memilih, mungkin ia
lebih memilih tinggal di gurun pasir daripada harus tinggal di sungai yang
menjijikan itu. Bagaimana tidak menjijikan jika, para warga menjadikan sungai
sebagai tempat sampah sehingga air sungai yang dulunya jernih kini berubah
warna menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Lingkungan kita
kini penuh sampah, di sungai ada sampah, di kali ada sampah, di selokan ada
sampah, bahkan, di pantai pun ada sampah, Nusantara penuh sampah.
Bukan
hanya masalah sampah di sungai, pepohonan di hutan juga kini telah hilang
akibat dari ulah para penebang liar yang tak bertanggungjawab. Mereka menebang
pohon dengan seenaknya tanpa berpikir panjang. Bukannya tidak boleh menebang
pohon tetapi, lakukanlah dengan prinsip tebang – pilih agar tidak berdampak
buruk bagi lingkungan.
Tanah
yang biasanya ditanami dengan tumbuhan hijau kini ditutupi dengan semen dan di
atasnya dibangun bangunan pencakar langit hingga menyebabkan berkurangnya
tempat resapan air hujan.
Tidak
selesai dengan tiga masalah lingkungan yang disebabkan oleh ulah penghuni bumi
ini, masalah kebakaran hutan yang tidak lain penyebabnya adalah manusia yang
seakan hanya mementingkan materi daripada kesehatan lingkungannya. Mungkin,
awalnya mereka menganggap membakar hutan untuk pindah lahan itu tidak berakibat
fatal. Namun, lain halnya jika, pohon yang dibakar itu tertanam di tanah
gambut, tanah gambut akan menyerap api hingga ke tanah bagian dalam jadi, sulit
untuk dipadamkan karena selalu ada bara api dari dalam tanah hingga menyebabkan
kabut asap.
Lengkap
sudah pencemaran lingkungan yang terjadi di bumi Ibu Pertiwi. Air sungai yang
tak jernih hingga memicu munculnya bibit penyakit, banjir yang seakan sudah
menjadi langganan bulanan Ibu Kota karena hilangnya daerah resapan air, Longsor
akibat penebangan pohon secara liar, dan bencana kabut asap yang begitu fatal
hingga menembus negara tetangga. Ibu Pertiwi berduka,Ibu Pertiwi menangis,
kecewa dengan penghuninya yang sudah tidak merawatnya lagi. Penghuninya hanya
menginginkan keuntungan darinya namun, enggan untuk merawatnya, ibarat
peribahasa habis manis sepa dibuang, itulah
yang Ibu Pertiwi rasakan dari ulah para penduduknya.
Apakah
kita hanya ingin berdiam diri melihat penderitaan Ibu Pertiwi ? Saya harap
jawabannya, TIDAK.
Marilah
kita sebagai generasi muda penerus bangsa bekerja sama menyelesaikan semua
penderitaan Ibu Pertiwi. Mari kita memulainya dari awal, yakni dengan
memberikan penyuluhan kepada orang – orang yang tidak terlalu mengerti akan
pentingnya kebersihan & kesehatan lingkungan hidup, mengajak seluruh
masyarakat Indonesia untuk menanam 2017 pohon di Indonesia sebagai wujud
penyambutan tahun baru 2017, memberikan intruksi kepada masyarakat agar tidak
membuang sampah sembarangan dan selalu merawat kebersihan sungai, kali dan
selokan.
Namun,
semua ini tak cukup jika hanya masyarakat yang turut andil, pemerintah juga
harus turut andil dalam hal menjaga keasrian lingkungan hidup dengan
menyediakan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai misalnya, keberadaan
mobil angkutan sampah di setiap minggunya, kerja bakti yang dilakukan seminggu
sekali dan yang pasti pemerintah harus memberikan contoh yang baik untuk
rakyatnya.
Nah,
jika semua ini kita laksanakan dengan baik dan rutin maka, percayalah bahwa
jeritan tangis ibu Pertiwi tak akan terdengar lagi. Nusantara akan kembali asri
dengan tumbuhan hijau, pepohonan rindang yang akan melindungi dari sinar
ultraviolet yang berbahaya, air sungai yang
jernih dan menyejukkan, semua itu kembali kita rasakan. Yakinlah kita
bisa bernafas lega dan beraktifitas di luar ruangan tanpa takut dengan kabut
asap. Nusantaraku kembali, tiada lagi duka Ibu Periwi, tiada lagi jeritan
tangis Ibu Pertiwi.
~ Fitrhi
Ramadhani, 2017